Rabu, 15 Februari 2017

BODOHKAH AKU KETIKA KURASA BAHAGIA?

BODOH KAH AKU KETIKA KU RASAKAN BAHAGIA

Aku tersenyum bangga ketika orang mencaciku, "Kau itu bodoh, dapat keuntungan apa dari semua ini, Kamu capek! kamu tidak menghargai diri kamu sendiri,"  dan masih banyak lagi cacian itu. Aku menghela nafas dalam dalam, tak terasa air mataku menetes jatuh di pipi tirusku. Orang akan mengira aku menangis karena derita dan kesedihanku. Tapi sungguh, perasaan  aku tidaklah seperti yang terlihat oleh mereka, hanya mereka yang mempunyai perasaan yang sama yang bisa menembus relung bathinku hingga bisa memahami dan menilai perasaanku. Taukah mereka Tangis ini sungguh adalah Tangis bahagia.
         Tapi cacian itu sempat mengusik bathinku, aku bertanya pada diriku sendiri. "Salahkan aku melakukan semua ini, bukankah kita hidup tak melulu mencari money?". Aku teringat kesalahanku di minggu lalu, yang sempat membuat otakku kacau tak menentu. Karena berlomba mengejar Rupiah sampai sampai aku membuat sebuah kesalahan yang tak bisa termaafkan olehku. Minggu lalu aku mendapatkan Rupiah yang fantastik menurutku dalam hitungan  enam belas jam kerja, tapi itu tidak membuatku bahagia. Dan di minggu ini aku tidak mendapat Rupiah sama sekali bahkan malah berkurang isi dompetku tapi bathin ini sangat bahagia.  Sungguh sesuatu yang kontra terjadi  dari kejadian ini.
          Aku terdiam, pandanganku menerawang jauh melintas jendela kaca yang mulai berdebu di ruang kerjaku. Sore ini langit dipenuhi awan kelabu,  suara burung yang saling bersautan membuat suasana sedikit ceria. Aku tersenyum dan masih memikirkan pertanyaan itu “ “Bodohkah aku ?”. Dan dimanakah letak bodohnya aku? Disaat aku tidak bahagia ketika kudapat rupiah itu? Atau disaat aku bahagia ketika ku tak dapat rupiah itu?
          Tiba tiba aku teringat ketika ku lunglai lemah tak berdaya karena penyesalan dan rasa bersalahku, segalon vitamin semangat  yang disuntikkan padaku oleh seseorang yang kuanggap sebagai guru dan sahabatku. Kalimat yg dikatakannya itu masih teringat olehku, “rasa bersalah itu sudah suatu hidayah dan kebaikan, dan semua kejadian pasti ada hikmahnya.” Perlu waktu aku mencerna  kalimat itu, aku tersenyum kecil aku teringat kalimat nakal penuh canda yang sering diucapkannya “No tester Berarti Hoax,” yah… hampir samalah jika kuucapkan responku tentang kalimat penyemangat yang disuntikkannya padaku. Tak terasa mataku terpejam, angin sepoi sepoi menerobos jendela ruang kerjaku hingga membuatku terlelap disofa bututku.
            Suara nyaring penjaja siomay, mengganggu lelapku aku terbangun dengan penuh bahagia. Sungguh aku tak tau apa yang membuatku bahagia. Aku membaca pesan pendek yang di kirimkan oleh seorang sahabat yang sebenarnya sudah berjarak karena suatu perbedaan pemikiran. Dia katakan semua sangat bahagia menikmati  apa yang aku telah kerjakan, aku mengulum senyumku tapi tak mau berbangga. Aku teringat lagi kalimat darinya itu, “Semua kejadian pasti ada hikmahnya.”… Yah… betul ini bukan Hoax tapi adalah nyata adanya. Kalau tidak kudapatkan Rupiah di minggu lalu pasti aku tak dapat lakukan kebaikan di minggu ini. Dan kini aku jadi lebih  bahagia walau aku  harus tetap mencari jawaban yang akan menyenangkan dia dari sebuah tanya “bodohkah aku?” karena  kacamata kita beda “kabahagiaanku”  terlihat olehmu adalah sebuah “kebodohanku.”

******

Tidak ada komentar:

Posting Komentar