BODOH KAH AKU KETIKA KU RASAKAN
BAHAGIA
Aku tersenyum bangga ketika orang mencaciku,
"Kau itu bodoh, dapat keuntungan apa dari semua ini, Kamu capek! kamu
tidak menghargai diri kamu sendiri," dan masih banyak lagi cacian
itu. Aku menghela nafas dalam dalam, tak terasa air mataku menetes jatuh di
pipi tirusku. Orang akan mengira aku menangis karena derita dan kesedihanku.
Tapi sungguh, perasaan aku tidaklah seperti yang terlihat oleh mereka,
hanya mereka yang mempunyai perasaan yang sama yang bisa menembus relung
bathinku hingga bisa memahami dan menilai perasaanku. Taukah mereka Tangis ini sungguh
adalah Tangis bahagia.
Tapi cacian itu sempat mengusik
bathinku, aku bertanya pada diriku sendiri. "Salahkan aku melakukan semua
ini, bukankah kita hidup tak melulu mencari money?". Aku teringat
kesalahanku di minggu lalu, yang sempat membuat otakku kacau tak menentu. Karena
berlomba mengejar Rupiah sampai sampai aku membuat sebuah kesalahan yang tak
bisa termaafkan olehku. Minggu lalu aku mendapatkan Rupiah yang fantastik
menurutku dalam hitungan enam belas jam kerja, tapi itu tidak membuatku
bahagia. Dan di minggu ini aku tidak mendapat Rupiah sama sekali bahkan malah
berkurang isi dompetku tapi bathin ini sangat bahagia. Sungguh
sesuatu yang kontra terjadi dari kejadian ini.
Aku terdiam,
pandanganku menerawang jauh melintas jendela kaca yang mulai berdebu di ruang
kerjaku. Sore ini langit dipenuhi awan kelabu, suara burung yang saling bersautan membuat
suasana sedikit ceria. Aku tersenyum dan masih memikirkan pertanyaan itu “ “Bodohkah
aku ?”. Dan dimanakah letak bodohnya aku? Disaat aku tidak bahagia ketika kudapat rupiah itu? Atau disaat aku bahagia ketika ku tak dapat rupiah itu?
Tiba tiba aku
teringat ketika ku lunglai lemah tak berdaya karena penyesalan dan rasa
bersalahku, segalon vitamin semangat yang disuntikkan padaku oleh seseorang yang
kuanggap sebagai guru dan sahabatku. Kalimat yg dikatakannya itu masih teringat
olehku, “rasa bersalah itu sudah suatu hidayah dan kebaikan, dan semua kejadian
pasti ada hikmahnya.” Perlu waktu aku mencerna
kalimat itu, aku tersenyum kecil aku teringat kalimat nakal penuh canda yang
sering diucapkannya “No tester Berarti Hoax,” yah… hampir samalah jika
kuucapkan responku tentang kalimat penyemangat yang disuntikkannya padaku. Tak terasa
mataku terpejam, angin sepoi sepoi menerobos jendela ruang kerjaku hingga
membuatku terlelap disofa bututku.
Suara nyaring penjaja siomay, mengganggu
lelapku aku terbangun dengan penuh bahagia. Sungguh aku tak tau apa yang
membuatku bahagia. Aku membaca pesan pendek yang di kirimkan oleh seorang
sahabat yang sebenarnya sudah berjarak karena suatu perbedaan pemikiran. Dia katakan semua sangat bahagia menikmati apa yang aku telah
kerjakan, aku mengulum senyumku tapi tak mau berbangga. Aku teringat lagi
kalimat darinya itu, “Semua kejadian pasti ada hikmahnya.”… Yah… betul ini
bukan Hoax tapi adalah nyata adanya. Kalau tidak kudapatkan Rupiah di minggu
lalu pasti aku tak dapat lakukan kebaikan di minggu ini. Dan kini aku jadi
lebih bahagia walau aku harus tetap mencari jawaban yang akan
menyenangkan dia dari sebuah tanya “bodohkah aku?” karena kacamata kita beda “kabahagiaanku” terlihat olehmu adalah sebuah “kebodohanku.”
******