Selasa, 15 Maret 2016

KENANGAN EMPAT SERANGKAI YANG MANIS

KENANGAN EMPAT  SERANGKAI YANG MANIS..

           Kalau orang inginkan kucing yang manis harus mencari nya ke Pet Shop tapi tidak buat aku. Seekor kucing yang baru melahirkan bersama dengan dua anaknya yang sangat kecil  datang kerumahku, dan hari berlalu kucing kecil yang awalnya menjijikkanku kini menjadi lucu dan kuberi nama Shyro dan Achie. Hari -hari  cepat berlalu. kini si Achie sudah tidak kecil lagi dan  telah menjadi ibu dari  keempat anaknya yang begitu manis, ada Brownis, Browndis, Greynis dan Blacknis. Sungguh kucing kucing yang manis....
           Kuamati tingkah lucu si manis,  dengan bulu yang tebal dan ekor yang panjang  menarik perhatian banyak orang. Brownis  banyak mendapat perhatian dariku dan juga dari anak-anak disekitarku. Sedangkan Blacknis begitu dibencinya karena dengan warna hitam legamnya itu mengingatkan kita pada film film horor yang menakutkan.... Yah, itulah manusia menilai sesuatu tidak objektif.
            Empat serangkai yang manis itu sungguh menarik perhatian semua orang, dengan tingkahnya yang lucu, bulunya yang panjang sungguh mempesona. Dan khusus dengan Brownis dan Browndis ada beberapa orang yang ingin merawatnya, tapi sebaliknya si Blacknis bahkan ada yang menyarankannya tuk membuangnya.
            Cerita mengenai mereka sebenarnya mereka adalah kucing kampung yang mempunyai hubungan khusus dengan kucing persia milik tetangga sebelah, sehingga lahirlah empat serangkai peranakan persia yang manis.  Brownis seekor kucing manis dengan tiga warna putih hitam dan coklat, Sangat lincah dan menggemaskan, Browndis adalah kucing dengan campuran warna yang indah dengan dominan abu-abu dan kecoklatan, Greynis seperti warna kucing pada umumnya abu-abu belang dan terakhir Blacknis  sudah bisa ditebak pasti mempunyai warna hitam legam... ya hitam legam yang sangat menakutkan.    
            Manisnya kucing-kucingku itu tak semanis cerita hidupnya....., Kejadian yang menyedihkan terjadi berawal  disuatu pagi, si manis Blacknis mengeong nan mengerat-mengerat pintu, seakan mengatakan sesuatu, sedangkan manis lainnya tidur pulas di kursi merahku. aku hanya membukakan pintu. Tak henti si Blacknis mengeong seakan menandakan suatu keresahan. Tak lama kemudian  aku  ikuti langkahnya  menuju teras rumah dan berhenti dekat pintu pagar, betapa terkejutnya aku, Brownis telah terkapar tak berdaya dalam selokan air, aku menahan kesedihanku tak terasa air mata jatuh membasahi pipiku, dan suara tangisku memecahkan senyapnya pagi itu. Berita kematian Brownis tersebar hingga pagi itu beberapa anak-anak dan ibu-ibu mendatangi rumahku, seakan semua berduka akan kematian Brownis bahkan berbagai tanya terlontar dari bibir mereka "mengapa ini bisa terjadi?, kenapa harus Brownis?, kenapa bukan Blacknis?". Aku menatap Blacknis sedih andaikan dia tau bahwa kematiannya yang diharapkan, betapa sedih hatinya, tapi tak taulah apa yang dirasakan Blacknis waktu itu. Tapi yang pasti kebaikan Blacknis lebih dari yang lain, sementara kucing lain tidur pulas tanpa peduli pada kematian brownis, Blacknis sibuk mencium Tubuh Brownis yang tiada daya  tanpa henti, "Sungguh Blacknis hatimu tak sehitam warnamu". kataku dalam hati. Hari itu juga aku belajar memaknai hidup, aku belajar sesuatu dari seekor kucing hitam kecil yang tak semanis yang lainnya."Blacknis..., maafkan aku yang sedikit mengabaikanmu".  Berawal dari itu aku jadi sangat menyayangi Kucing Hitamku aku begitu bangganya dengan apa yang dia perbuat, ketika dia memberi tahuku  dengan caranya tentang  kematian saudaranya dan ketika dengan penuh kesedihan dia menjaga tubuh Brownis yang terkapar, sungguh  kucing hitamku yang manis.  Suamiku siapkan kain putih tuk membungkus tubuh brownis yang tak berdaya  dan mencarikan tempat yang baik tuk menguburnya. anak-anak mencari bunga tuk menghias kuburnya. sungguh anak-anakpun ikut berduka seperi dukaku.
            Dipagi yang lain  seminggu setelah kejadian itu tak terlihat olehku Blacknis berjam- jam tiada muncul, aku berpikir manisku itu hilang diambil orang. Sore hari aku dapat kabar Blacknis terkapar di selokan dengan luka di kepalanya, mungkin telah ada yang menabraknya dan membuangnya di selokan, sungguh manusia itu tak punya hati membuang kucing kecilku tanpa kata maaf atau pemberitauan padaku...., ini kesedihanku yang kedua kalinya, air mataku mengalir dan tak ada yang bisa aku katakan. Suamiku sibuk mencari kain putih tuk membungkus tubuh Blacknis yang tak bernyawa. lalu menguburnya di samping tempat Brownis dikubur.
             Yang tersisa dua kucing Browndis dan Greyndis masih dengan kalung lucu yang melingkar di lehernya, kebersamaan kamipun segera usai ketika kedua kucing kecilku hilang tak kembali, aku sedih tuk ketiga kalinya dan tak mampu teteskan air mataku, aku tiada daya tuk mencarinya hanya doa kupanjatkan semoga  kucing-kucing manisku itu dirawat orang yang bisa  memberi sayang lebih dari aku. Itu adalah akhir ceritaku yang membuatku tak ingin mempunyai kucing-kucing kecil lagi. Maafkan aku tak bisa memberi tempat lagi untuk kucing-kucing  yang akan melahirkan di rumahku, bukan karena apa tapi karena aku tak mau memiliki dan kehilangan lagi. Browndis  dan Greynis dimanapun kamu aku berharap kau bahagia disana dengan orang yang menyayangimu lebih dari aku. Kini aku hanya bisa melihat foto-foto lucu tentangmu, tuk mengobati rinduku.







Senin, 14 Maret 2016

ANTARA KAU, DIA DAN DIA

Antara Kau, Dia dan Dia
                                              By : La Runie
                                                                                                    (14 Maret 2016)
Entah  mengapa malam ini terasa sunyi
Tiada tiup angin dan suara jangkrik yang menemani  
Tak seperti biasanya mata ini begitu sulit terpejam
Seakan  ada sesuatu di dada ini yang terpendam

Sayup sayup terdengar indah  alunan lagu rindu
Yang membuatku  semakin rindu pada belahan jiwaku
Dan juga mengingatkanku pada kekonyolanku saat itu
Yang sering membuat diri ini tersipu malu

Sayang..... ijinkan  aku  mengingat masa-masa konyolku itu
Ijinkan aku nikmati tawa bersama dia dan dia
Sayang .... engkau tau aku, hatiku satu hanya untukmu
Tak mungkin berpaling pada siapun dan juga dia

Sayang..... aku baru sadar dulu aku begitu bodohnya
Itu membuatku  tak mengerti apa itu cinta
Sayang...... ingatkah kau saat ku berdiri diantara kau dan dia
Sungguh  aku berpikir  itu adalah hal yang biasa

Sayang..... maafkan atas kebodohan dan kekonyolanku saat itu
Aku tahu kau begitu baik, dia juga baik
Kau begitu tampan diapun juga tak kalah tampan
Yeah... kau dan dia adalah teman- temanku saat itu
 
Aku bangga ketika kau perlakukan dia seperti sahabatmu
Dan.... ketika kau tak beriku tanya tentang dia
Sungguh kedewasanmu yang mampu meluluh lantahkan hatiku
Yang  seakan telah membatu  diantara dia dan dia

                                  ******
N.B:
Puisi ditulis berdasarkan pengalaman seorang sahabat.

Jumat, 11 Maret 2016

HIDUP ADALAH PILIHAN



    Hidup Adalah Pilihan
                                           By:  La Runie
                                                       12032016

     Kita bisa pilih semua seperti yang kita mau
     Kita pisa pilih tuk miliki semua lebih dari yang orang  punya
    Tapi.... kita hanya mampu memilih....
     Dan.... tidak untuk mewujudkannya

     Karena Kita adalah wayang dalam kehidupan ini......
     Dengan segala peran yang bisa kita mainkan
     Kita adalah wayang yang telah diijinkan hidup di dunia ini
     Untuk nikmati semua Maha Karya Sang Pencipta

     Tanpa sadar kita terlalu bangga dengan apa yang kita punya
     Tanpa sadar kita menepuk dada dengan keberhasilan kita
     Tanpa sadar dengan congkak kita hinakan semua tanpa rasa
     Dan tanpa sadar kita permainkan orang dan alam disekitar kita

     Sungguh kita terlalu angkuh dalam kehidupan ini
      Hingga lupakan…..
      Bahwa ada Sang Maha Segala menjadikan kita seperti ini
     Sungguh  kita terlalu percaya diri….
      Hingga lupa mensyukuri  semua  apa yang telah terjadi

     Memang hidup adalah pilihan
     Kita  bisa memilah  arah mana dan bekal apa
     Yang akan kita pilih di hari ini

     Untuk Menghadap pada sang Illahi