KENANGAN EMPAT SERANGKAI YANG MANIS..
Kalau orang inginkan kucing yang manis harus mencari nya ke Pet Shop tapi tidak buat aku. Seekor kucing yang baru melahirkan bersama dengan dua anaknya yang sangat kecil datang kerumahku, dan hari berlalu kucing kecil yang awalnya menjijikkanku kini menjadi lucu dan kuberi nama Shyro dan Achie. Hari -hari cepat berlalu. kini si Achie sudah tidak kecil lagi dan telah menjadi ibu dari keempat anaknya yang begitu manis, ada Brownis, Browndis, Greynis dan Blacknis. Sungguh kucing kucing yang manis....
Kuamati tingkah lucu si manis, dengan bulu yang tebal dan ekor yang panjang menarik perhatian banyak orang. Brownis banyak mendapat perhatian dariku dan juga dari anak-anak disekitarku. Sedangkan Blacknis begitu dibencinya karena dengan warna hitam legamnya itu mengingatkan kita pada film film horor yang menakutkan.... Yah, itulah manusia menilai sesuatu tidak objektif.
Empat serangkai yang manis itu sungguh menarik perhatian semua orang, dengan tingkahnya yang lucu, bulunya yang panjang sungguh mempesona. Dan khusus dengan Brownis dan Browndis ada beberapa orang yang ingin merawatnya, tapi sebaliknya si Blacknis bahkan ada yang menyarankannya tuk membuangnya.
Cerita mengenai mereka sebenarnya mereka adalah kucing kampung yang mempunyai hubungan khusus dengan kucing persia milik tetangga sebelah, sehingga lahirlah empat serangkai peranakan persia yang manis. Brownis seekor kucing manis dengan tiga warna putih hitam dan coklat, Sangat lincah dan menggemaskan, Browndis adalah kucing dengan campuran warna yang indah dengan dominan abu-abu dan kecoklatan, Greynis seperti warna kucing pada umumnya abu-abu belang dan terakhir Blacknis sudah bisa ditebak pasti mempunyai warna hitam legam... ya hitam legam yang sangat menakutkan.
Manisnya kucing-kucingku itu tak semanis cerita hidupnya....., Kejadian yang menyedihkan terjadi berawal disuatu pagi, si manis Blacknis mengeong nan mengerat-mengerat pintu, seakan mengatakan sesuatu, sedangkan manis lainnya tidur pulas di kursi merahku. aku hanya membukakan pintu. Tak henti si Blacknis mengeong seakan menandakan suatu keresahan. Tak lama kemudian aku ikuti langkahnya menuju teras rumah dan berhenti dekat pintu pagar, betapa terkejutnya aku, Brownis telah terkapar tak berdaya dalam selokan air, aku menahan kesedihanku tak terasa air mata jatuh membasahi pipiku, dan suara tangisku memecahkan senyapnya pagi itu. Berita kematian Brownis tersebar hingga pagi itu beberapa anak-anak dan ibu-ibu mendatangi rumahku, seakan semua berduka akan kematian Brownis bahkan berbagai tanya terlontar dari bibir mereka "mengapa ini bisa terjadi?, kenapa harus Brownis?, kenapa bukan Blacknis?". Aku menatap Blacknis sedih andaikan dia tau bahwa kematiannya yang diharapkan, betapa sedih hatinya, tapi tak taulah apa yang dirasakan Blacknis waktu itu. Tapi yang pasti kebaikan Blacknis lebih dari yang lain, sementara kucing lain tidur pulas tanpa peduli pada kematian brownis, Blacknis sibuk mencium Tubuh Brownis yang tiada daya tanpa henti, "Sungguh Blacknis hatimu tak sehitam warnamu". kataku dalam hati. Hari itu juga aku belajar memaknai hidup, aku belajar sesuatu dari seekor kucing hitam kecil yang tak semanis yang lainnya."Blacknis..., maafkan aku yang sedikit mengabaikanmu". Berawal dari itu aku jadi sangat menyayangi Kucing Hitamku aku begitu bangganya dengan apa yang dia perbuat, ketika dia memberi tahuku dengan caranya tentang kematian saudaranya dan ketika dengan penuh kesedihan dia menjaga tubuh Brownis yang terkapar, sungguh kucing hitamku yang manis. Suamiku siapkan kain putih tuk membungkus tubuh brownis yang tak berdaya dan mencarikan tempat yang baik tuk menguburnya. anak-anak mencari bunga tuk menghias kuburnya. sungguh anak-anakpun ikut berduka seperi dukaku.
Dipagi yang lain seminggu setelah kejadian itu tak terlihat olehku Blacknis berjam- jam tiada muncul, aku berpikir manisku itu hilang diambil orang. Sore hari aku dapat kabar Blacknis terkapar di selokan dengan luka di kepalanya, mungkin telah ada yang menabraknya dan membuangnya di selokan, sungguh manusia itu tak punya hati membuang kucing kecilku tanpa kata maaf atau pemberitauan padaku...., ini kesedihanku yang kedua kalinya, air mataku mengalir dan tak ada yang bisa aku katakan. Suamiku sibuk mencari kain putih tuk membungkus tubuh Blacknis yang tak bernyawa. lalu menguburnya di samping tempat Brownis dikubur.
Yang tersisa dua kucing Browndis dan Greyndis masih dengan kalung lucu yang melingkar di lehernya, kebersamaan kamipun segera usai ketika kedua kucing kecilku hilang tak kembali, aku sedih tuk ketiga kalinya dan tak mampu teteskan air mataku, aku tiada daya tuk mencarinya hanya doa kupanjatkan semoga kucing-kucing manisku itu dirawat orang yang bisa memberi sayang lebih dari aku. Itu adalah akhir ceritaku yang membuatku tak ingin mempunyai kucing-kucing kecil lagi. Maafkan aku tak bisa memberi tempat lagi untuk kucing-kucing yang akan melahirkan di rumahku, bukan karena apa tapi karena aku tak mau memiliki dan kehilangan lagi. Browndis dan Greynis dimanapun kamu aku berharap kau bahagia disana dengan orang yang menyayangimu lebih dari aku. Kini aku hanya bisa melihat foto-foto lucu tentangmu, tuk mengobati rinduku.